Indahnya Ramadhan di Aceh, Mengenal Tradisi dan Kuliner Khas Aceh #PesonaRamadan2018

Hari itu, tepatnya tanggal 15 Mei 2018 merupakan Uroe Meugang (Hari Meugang). Uroe Meugang yang sangat dinanti nantikan oleh masyarakat Aceh pada umumnya dan khususnya oleh masyarakat Sabang sendiri untuk menyambut bulan ramadhan. Mungkin uroe meugang di Aceh sudah tidak asing kita dengar, tapi itulah suatu keunikan yang tidak pernah anda dapatkan di daerah lain selain Aceh. Uroe meugang merupakan salah satu tradisi memasak daging sapi atau kerbau dan makan bersama keluarga yang hingga kini masih sangat melekat dimasyarakat Aceh.



Ini merupakan tradisi yang telah diwariskan turun temurun dari kerajaan Aceh yaitu Sultan Iskandar Muda. Sebagai mana dilantunkan dalam Nadzam Aceh "Sultan Iskandar Muda nyan peuphon meugang, Rakyat pih seunang na soe peuduli, Sie ka geutumpok oh leuh geucang-cang, Mandum nyang na hak laju geubagi" yang artinya "Sultan Iskandar Muda pemula meugang, Rakyat pun senang ada yang peduli, Daging ditumpuk setelah dicincang, Semua yang berhak langsung dibagi."

Bagi masyarakat Aceh, uroe meugang merupakan momentum berharga dan dirayakan walaupun dengan kondisi keuangan seadanya, biasanya masyarakat Aceh jauh-jauh hari sudah mempersiapkan dana untuk menyambut tradisi ini, tidak terkecuali orang sangat miskin sekalipun.

Bukan karena dagingnya, tapi suasananya diuroe meugang ini sudah menjadi wadah untuk membangun hubungan kekeluargaan. Saya sendiri merasakannya, dimana pada saat itu saya bersekolah jauh dari orang tua yang tinggal di Sabang dan saya memilih untuk menuntut ilmu di SMK yang ada di Banda Aceh.

Pada suatu uroe meugang waktu itu Ibu menghubungi saya dan bertanya sudahkah libur sekolah? karena pada masa saya sekolah saat uroe meugang lah hari terakhir sekolah sebelum libur puasa. lalu Ibu mengatakan kalau sudah libur teruslah berkemas dan siang ini juga kamu langsung pulang ke Sabang. Beberapa jam kemudian pun saya pulang sekolah dan melihat teman satu kamar sudah bergegas dan berkata pada saya, kamu tunggu apalagi? apa tidak ingin merasakan masakan ibumu? Ayo kita pulang. Tanpa banyak bertanya dan saya pun berkemas untuk bersama-sama pulang ke kampung. Yah, disitulah saya merasakan keistimewaan uroe meugang di Aceh, sedih rasanya saat uroe meugang tiba tidak bersama keluarga di kampung.

Suara azan maghrib berkumandang, pertanda telah masuknya bulan suci ramadhan. Masyarakat Aceh yang mayoritas muslim pun beramai ramai menuju ke masjid bersama keluarga hendak melaksanakan shalat malam pertama ramadhan. Pancaran senyuman masyarakat Aceh malam itu melengkapkan keindahan bulan suci ramadhan. Setelah selesai shalat tarawih, masjid-masjid tidak sepi seperti malam biasanya. Para orang dewasa dan anak-anak masih memenuhi masjid, aktifitas tadarus yang biasanya dilakukan pada bulan ramadhan pun dimulai. Ayat-ayat Allah terus dikumandangkan tak henti sampai tibanya waktu sahur, suasana seperti ini juga bisa anda rasakan disiang hari sebelum dan setelah shalat. Waktu sahur tiba, tak sedikit warga yang membawa makanan sahur ke masjid untuk mereka yang tadarus.
Aktivitas di masjid selama ramadhan

Matahari terbit, berbagai aktifitas pun dilakukan masyarakatnya seperti biasa. namun dibulan yang penuh berkah ini sedikit berbeda. Aceh yang dikenal sebagai daerah seribu warung kopi pun tak seperti biasanya. Umumnya masyarakat di Aceh sebelum melakukan aktifitas kebanyakan memilih ke warung kopi sebentar, untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan agar semangat dalam melakukan aktifitas. Namun yang membuat beda Aceh dengan daerah lain, dari pagi hingga sore hari anda tidak dapat menemukan satu warung kopi pun yang buka walaupun terdapat banyak sekali warung kopi di Aceh. Selama ramadhan anda hanya bisa menikmati suasana ngopi sesaat waktu berbuka puasa dan setelah shalat tarawih sampai waktu sahur.

Pada sore hari menjelang buka puasa, aktifitas masyarakat pun semakin ramai. Setelah shalat ashar para pedagang di Aceh mulai sibuk menyiapkan dagangannya, khususnya mereka yang berjualan menu berbuka puasa. Berbicara kuliner, Aceh sangat terkenal dengan kulinernya. Tak heran jika terdapat banyak macam menu untuk berbuka. Namun ada beberapa kuliner yang tidak anda dapatkan dihari selain ramadhan, seperti Leumang, Kanji Rumbi, Timun Suri dan beberapa menu lainnya.
Leumang

Menu berbuka yang paling menarik dan diminati di bulan ramadhan adalah Leumang, leumang ini terbuat dari beras ketan atau ubi yang dicampur dengan santan dan garam, kemudian dibalut dengan daun pisang dan dimasukkan kedalam bambu. kemudian dibakar dengan arang hingga matang selama kurang lebih 4 jam. Leumang di Aceh biasanya paling nikmat dimakan pakai selai srikaya dan duren.

Satu lagi, kuliner yang dapat anda rasakan di Aceh selama bulan ramadhan adalah Kuah Beulangong. Aceh yang kaya dengan tradisi khanduri tidak lepas dengan kulinernya, di Aceh sendiri ada tradisi khanduri khatam Al-qur'an. Di khanduri ini anda bisa merasakan nikmatnya kuah beulangong bersama warga. khanduri yang dilakukan setelah khatam al-qur'an biasanya dilakukan di pertengahan puasa, biasanya juga dilakukan bersamaan di 17 Ramadhan saat memperingati turunnya Al-qur'an yang disebut malam Nuzulul Qur'an.
Kuah Beulangong

Pada malam ke 20 hingga malam terakhir ramdhan, di Aceh juga dilakukan shalat malam yang biasa disebut Qiyamul Lail. Shalat malam ini biasanya diimami oleh imam yang didatangkan langsung dari negara-negara islam seperti Arab Saudi, saat itu anda terasa seperti sedang shalat di Masjidil Haram Kota Mekkah. Selama berjalannya shalat malam para jama'ah pun melakukan makan sahur bersama di masjid hingga subuh berjama'ah. 

Ramadhan di Aceh memang sangat indah, Aceh yang terkenal dengan syari'at islam, kuliner serta tradisinya membuat banyak kaum muslim yang ingin menjalankan ibadah sambil menikmati suasana ramadhannya di Aceh. Jadi sangat disayangkan kalau belum pernah merasakan indahnya Pesona Ramadhan di Aceh. Jadi tunggu apa lagi, ayo ramadhan di Aceh.

Baca juga : Sumur Air Tawar di Pinggir Pantai, Ternyata Ini Fakta Menarik Tentang Sumur Tiga Sabang



Previous
Next Post »